Cermati Secara Utuh Informasi Soal Vaksin Covid-19

Selain tantangan dalam upaya memutus penyebaran Covid-19, hambatan lain yang juga dihadapi masyarakat adalah adanya infodemik seputar COVID-19. Infodemik ini mengarah pada informasi berlebih akan sebuah masalah, sehingga kemunculannya dapat mengganggu usaha pencarian solusi terhadap masalah tersebut.

Arus informasi yang tidak terbatas di era digital ini semakin mempermudah masyarakat mengakses informasi apapun yang mereka butuhkan. Namun semakin banyaknya media yang menyediakan informasi, tidak juga diiringi dengan fakta-fakta yang kredibel. Malah cenderung mengundang sensasi bahkan terkadang menyesesatkan.

Hal ini pun terjadi pada informasi soal vaksin Covid-19. Berbekal literasi pandemi yang terbatas, menjadikan masyarakat awam mudah terbawa arus informasi yang belum tentu benar faktanya. Ditambah lagi ini adalah penyakit baru yang umurnya belum sampai satu tahun. Tentunya informasi pun sangat dinamis, setiap hari ada temuan saintifik baru.

Vaksin biasanya membutuhkan penelitian dan pengujian bertahun-tahun sebelum mencapai lolos uji klinis, tetapi para ilmuwan di seluruh dunia berlomba untuk menghasilkan vaksin virus corona yang aman dan efektif pada 2021 tahun depan. Seperti dilansir oleh nytimes.com Para peneliti sedang menguji 48 vaksin dalam uji klinis pada manusia, dan setidaknya 89 vaksin praklinis sedang dalam penyelidikan aktif pada hewan.

Penelitian soal vaksin corona dimulai pada bulan Januari dengan penguraian genom SARS-CoV-2. Uji coba keamanan vaksin pertama pada manusia dimulai pada Maret, dan sekarang 10 uji coba telah mencapai tahap akhir pengujian. Beberapa dari percobaan ini akan gagal, dan yang lainnya mungkin berakhir tanpa hasil yang jelas. Tetapi beberapa vaksin mungkin berhasil merangsang sistem kekebalan untuk menghasilkan antibodi yang efektif melawan virus.

Dan semua orang saat ini dapat mengakses informasi perkembangan vaksin yang ada d seluruh dunia melalui Coronavirus Vaccine Tracker yang di muat oleh beberapa media asing salah satunya New York Times.

Dan berikut merupakan tahapan klinis dalam pengujian vaksin :

PENGUJIAN PRAKLINIS : Para ilmuwan menguji vaksin baru pada sel dan kemudian memberikannya kepada hewan seperti tikus atau monyet untuk melihat apakah vaksin itu menghasilkan respons imun. Disebutkan saat ini telah dikonfirmasi 89 vaksin praklinis dalam perkembangan aktif.

TAHAP 1 UJI KESELAMATAN : Para ilmuwan memberikan vaksin kepada sejumlah kecil orang untuk menguji keamanan dan dosis serta untuk memastikan bahwa vaksin tersebut merangsang sistem kekebalan.

TAHAP 2 PERCOBAAN YANG DIPERLUAS : Para ilmuwan memberikan vaksin kepada ratusan orang yang dibagi menjadi beberapa kelompok, seperti anak-anak dan orang tua, untuk melihat apakah vaksin bekerja berbeda pada mereka. Uji coba ini lebih lanjut menguji keamanan vaksin dan kemampuan untuk merangsang sistem kekebalan

TAHAP 3 UJI EFISIENSI : Ilmuwan memberikan vaksin kepada ribuan orang dan menunggu untuk melihat berapa banyak yang terinfeksi, dibandingkan dengan sukarelawan yang menerima plasebo. Uji coba ini dapat menentukan apakah vaksin melindungi dari virus corona. Pada bulan Juni, Komite Penasihat Vaksin dan Produk Biologi Amerika atau FDA menyarankan pembuat vaksin bahwa mereka ingin melihat bukti bahwa vaksin dapat melindungi setidaknya 50 persen dari mereka yang menerimanya. Selain itu, uji coba Tahap 3 cukup besar untuk mengungkapkan bukti efek samping yang relatif jarang yang mungkin terlewatkan dalam penelitian sebelumnya.

PERSETUJUAN AWAL ATAU TERBATAS :
China dan Rusia telah menyetujui vaksin tanpa menunggu hasil uji coba Fase 3. Para ahli mengatakan proses yang terburu-buru memiliki risiko yang serius.

PERSETUJUAN : Regulator di setiap negara meninjau hasil uji coba dan memutuskan apakah akan menyetujui vaksin atau tidak. Selama pandemi, vaksin dapat menerima otorisasi penggunaan darurat sebelum mendapatkan persetujuan resmi. Setelah vaksin dilisensikan, peneliti terus memantau orang yang menerimanya untuk memastikannya aman dan efektif.

DIJEDA : Jika peneliti mengamati gejala mengkhawatirkan pada sukarelawan, mereka dapat melakukan uji coba untuk jeda. Setelah penyelidikan, persidangan dapat dilanjutkan atau dibatalkan

Semua tahapan uji klinis ini dilakukan secara transparan. Tahapan keseluruhannya jelas. Dunia memantau perkembangan vaksin. Kejadian atau kendala pada saat uji klinis adalah hal yang lumrah selama itu diinformasikan dengan jelas dan transparan.

Seperti pada vaksin Astrazeneca yang sempat dihentikan uji klinisnya karena ada efek samping cukup serius dari relawan uji coba vaksin di Brazil. Namun hal tersebut diumumkan secara transparan bahwa ada kendala. Para peneliti memastikan vaksin tersebut akan aman dan efektif ketika sudah siap produksi massal.

Dengan berbekal informasi yang utuh soal pandemi ini, kita masyarakat tidak mudah terbawa berita-berita yang belum tentu kebenarannya dan cenderung mengundang sensasi. Dengan itu kita akan lebih bijak menerima informasi-informasi di kemudian hari.